Operational Excellent Mie Gacoan & Kober Mie Setan, The Discipline of Market Leader


Foodpreneur pernah dengar Brand @mie_gacoan dan @koberbar? Dua brand ini punya belasan dan puluhan cabang yang tersebar di area Jawa Tengah sampai Bali. Brand yang menjual mie (yes literally mie), nasgor dan dimsum. Harga jualnya juga sakti, hanya kisaran 8.000-20.000.


Dua brand ini sejujurnya sudah lama saya pelajari dan kebetulan klo Mie Gacoan merupakan salah satu perserta Kelas Foodizz, yaitu di Master Class Kemitraan (offline) kalo tidak salah. Sudah beberapa kali saya mendatangi langsung brand ini di beberapa lokasi seperti di Bali, Malang, Yogya, apa kesamaan dari dua brand ini? RAME BANGET, GOJEK ANTRI dan HARGA SUPER MURAH untuk ukuran kantong saya, tapi rasanya memang sangat murah sih.


Menariknya, menurut saya pribadi, kualitas makanannya tetap Ok banget walapun di deliver dengan harga sangat terjangkau kantong, "oh capex/modal awalnya pasti rendah banget yahh?" mungkin ini yang langsung terpikir oleh banyak orang khan yah, saya ga mau banyak komen deh soal ini, tapi klo temen-temen lihat sendiri IG, design & bangunannya, menurut saya pribadi sih bukan model rendah capex sih untuk ukuran harga jualnya, beberapa lokasi Kober dan Gacoan yang saya datangin keren dan geude-guede tempatnya, jadi rasanya serendah-rendahnya capex, tetep ajah cukup lumayan pasti.


Ok balik lagi, lah klo capex lumayan tinggi, harga jual rendah banget, terus perusahaan untung dari mana? Nah ini 1 million question sebenernya, karena ternyata BISA dan MUNGKIN sebetulnya, tergantung DISIPLIN MODEL BISNIS seperti apa yang diterapkan dan digunakan oleh brand-brand ini, di mana mereka tetap KEREN, men-DELIVER harga murah, namun tetap bisa berkembang dan sukses. Apa itu?


Dalam sebuah buku berjudul The Discipline of Market Leaders yang ditulis oleh Michael Treacy & Fred Wiersema, salah satu disiplin penting ketika kita ingin menjadi market leader adalah dengan cara OPERATIONAL EXCELLENCE, sederhananya kita sangat kuat dalam membangun budaya efisien, produktif, dan tepat sasaran, tidak ada COST yang tidak penting di dalam perusahaan, semua berkontribusi terhadap NET INCOME, tidak ada proses yang tidak efisien dan perusahaan sangat concern terhadap setiap biaya yang muncul karena mereka ingin mendeliver HARGA terbaik untuk KONSUMEN.


Temen-temen Foodpreneur, perhatikan dalam struktur P&L (Profit & Lost), secara sederhana nih yah biar mudah dipahami:


1. Omset

2. COGS

3. Gross Profit

4. Opex

5. Depresiasi & Amortisasi

6. Tax

7. Net Profit


Nah Model Bisnis OPERATIONAL EXCELLENCE, mereka akan berfokus pada Traffic/ Volume (OMSET) dengan menghadirkan harga terbaik bahkan termurah, namun kemudian mereka akan menerapkan DISIPLIN yang sangat tinggi di dalam beberapa hal sehingga secara NET PROFIT tetap akan tercapai sesuai dengan target perusahaan.


1. COGS.

Perusahaan akan melakukan engineering menu dengan sangat detail, negosiasi vendor (TOP/Term Of Payment, Harga, Biaya kirim) secara maksimal, melakukan riset bahan baku dengan tajam, memperhatikan proses penyajian bahan, jadinya yang akan impact ke operasional cost, memperhatikan life time dan penanganan bahan baku sehingga nanti akan efisien dalam penggunaan, memperhatikan logistik bahan baku akan seperti apa, sehingga akhirnya COGS bisa didapatkan dengan maksimal, artinya bukan hanya murah, namun juga membuat semua faktor biaya di bawahnya (OPEX) juga akan efisien.


2. OPEX

Ini sudah pasti yang akan paling dibuat efisien dan sangat produktif, banyak sekali caranya (pernah ditulis di www.foodizz.id/blog) soal bagaimana OPEX bisa sangat efisien, namun tetap bisa mendukung produktifitas pencapaian omset secara maksimal. Contoh, misalnya penerapan proses pengelolaan menu yang cepat dan efisien dengan maksimalisasi teknologi, ataupun dengan menggunakan bahan-bahan baku setengah jadi yang mempercepat penyajian. Contoh lain misalnya dengan menggunakan teknologi order dan Payment sehingga membuat Opex SDM turun signifikan dan banyak lagi strategi Disiplin Opex yang bisa diterapkan.


3. CASH FLOW

Salah satu kunci dalam Game OPERATIONAL EXCELLENCE adalah kemampuan dan kompetensi management dalam melakukan management cash flow. Mengapa? Saya kasih contoh sederhana ajah, OMSET terjadi jika TRAFFIC konsumen terjadi serta juga kita bisa membuat REPETISI konsumen terjadi dengan maksimal, betul? Nah, untuk ini diperlukan BUDGET, yaitu budget MARKETING DAN BRANDING, ketika omset terjadi, logikanya kita harus terus mendorong kegiatan MARKETING dan BRANDING dengan kuat sehingga terjadilah siklus yang diharapkan,


NAMUN jika managementnya tidak punya kompetensi mengelola CASH FLOW, misalnya T.O.P vendor terlampau singkat hanya 2 minggu ditambah orang SCM (Supply Chain Mangement) nya tidak punya kompetensi dan paham soal Cash Flow juga, yang terjadi adalah Cash dari OMSET akhirnya harus ter-alokasi untuk inventory dan payment, dalam skala besar hal ini membuat perusahaan jangan -jangan nanti tidak punya budget untuk berbagai kegiatan marketing dan branding, sehingga omset akhirnya pun tidak tercapai.


"Pusing yah? Yah di cerna dulu ajah hehe, karena kalo perusahaan temen-temen nanti gede akan ketemu juga, pilihannya belajar dari sekarang, ato tunggu nanti jadi masalah buat perusahaan temen-temen"


4. NET PROFIT

Ilustrasi sederhana. Mending mana, Net Margin 10% dari 1 M atau 25% dari 400 juta? Wah sama-sama 100 juga nih dong? YAP, pertanyaannya better mana? Nah dalam konteks di brand ingin mendeliver HARGA TERBAIK, rasanya punya konsumen LEBIH BANYAK akan membuat bisnis lebih bisa SUSTAIN, namun tergantung yah siapa TARGET MARKET dan SEGMEN yang kita garap, serta POSITIONING BRAND yang ingin kita bangun, tidak ada yang salah dan betul, ini lebih ke DISIPLIN mana yang ingin kita jadikan BISNIS MODEL yang kita jalankan.


Dengan NET hanya 10 persen katakan saja, konsumen terus ramai, pada akhirnya bisa buka belasan dan puluhan cabang, yah bisnis akhirnya GEUDE juga khan? Tapi again, tergantung beberapa hal juga, seperti objective bisnisnya, ambisi ownernya, sampe end game nya apa, tulisan ini cuman contoh ajah sih.


Terakhir, apa sih Kelebihan dari penerapan OPERATIONAL EXCELLENCE sebagai disiplin bisnis yang ingin kita jalankan?


1. Punya basis konsumen lebih besar dan lebih sustain.

2. Jika disiplin diikuti dengan Service Excellent dan Product Innovation, perusahaan bisa terus tumbuh seiring dengan terbangunnya Brand Value yg tepat.

3. Lebih AGILE, artinya dalam kondisi ekonomi turun atau masa-masa Covid-19 seperti sekarang, karena mendeliver Value for Money, brand relatif lebih dapat bertahan karena sejak awal mereka sudah menerapkan Operational Excellence.


Penerapannya mudah ga? Yah, tentu tidak, butuh COMPETENCY, MODEL BISNIS yang TEPAT serta bahkan ekstrimnya membutuhkan perubahan MANAGEMENT PENGELOLAAN PERUSAHAAN yang cukup signifikan, serta juga mungkin temen-temen butuh di bimbing oleh mentor atau konsultan yang sudah berpengalaman dalam hal ini.


Cukup panjang, monggo di cerna dan semoga bermanfaat.


Selamat Pagi


#KeepSharing

#SpreadKnowledge

#KulinerIndonesia


Tetap semanagat/HUSTLE pada kondisi apapun kita saat ini, karena SUCCESS IS YOURS.


BTW Foodizz akan menghadirkan kelas terbaru yang sangat menarik sekali yaitu:


10X Outlet Growth. Bagaimana mengembangkan cabang sendiri tanpa kemitraan. Gimana Strateginya, Gimana Strategi Fundingnya, dan Bagaimana Membuat Business Forecastingnya, plus dilengkap Studi Kasus dan diberikan contoh Excell Forecasting. Jangan lewatkan Kelas ini, daftar sekarang di https://kursusfoodizz.id/foc11/


Sumber Gambar: https://www.business-to-you.com/

187 views0 comments

Previous Post

Baca berdasarkan Topik