Black Friday Clothing Sale Leaderboard.j

Innovate Or Die


Statistik membuktikan bahwa banyak sekali bisnis kuliner yang tidak bertahan lama dan harus tutup dalam periode singkat, bahkan salah satu studi menyatakan bahwa 70% bisnis kuliner harus gulung tikar hanya dalam periode 1 – 3 tahun. Memang penyebab kegagalan dalam bisnis kuliner bisa berbagai macam, mulai dari pengelolaan bisnis yang kurang baik, produknya sendiri yang memang belum terbukti dapat diterima pasar, dan banyak hal-hal lainnya (silahkan baca artikel terkait sebelumnya mengenai 8 Resiko yang Wajib Dikelola dalam Bisnis Kuliner).


Salah satu kunci sukses dan bertahan di dalam bisnis kuliner adalah kemampuan berinovasi secara konsisten, sehingga produk yang kita tawarkan tetap relevan dengan selera konsumen dan perubahan pasar. Mungkin sebagian dari kita beranggapan bahwa kemampuan berinovasi sangat tergantung dari ide dan bakat dari pemilik bisnisnya. Bisa jadi ini ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Kemampuan berinovasi sebetulnya sangat terkait erat dengan kemampuan dan kepekaan membaca / menganalisa kebutuhan konsumen serta perubahan trend yang terjadi. Dan hal ini sebetulnya bisa dilatih, dibangun dan dibiasakan sehingga menjadi budaya.


Inovasi ini tidak hanya berkaitan dengan rasa dari produk kuliner yang ditawarkan, sudah tentu rasa dan kualitas produk kuliner sangat penting sebagai modal awal untuk memenangkan hati konsumen tapi konsep inovasi lebih luas dari itu. Harga yang kita tentukan, kemasan yang kita gunakan, channel penjualan yang kita manfaatkan, serta promosi yang kita jalankan adalah juga bagian dari inovasi, yang mana semua itu bermuara pada bagaimana kebutuhan konsumen dapat kita penuhi dengan lebih baik lagi.

Untuk membangun ritme serta budaya inovasi dalam bisnis kuliner yang kita jalankan, 5 fase berikut ini akan membantu kita untuk berpikir dan berproses secara terstruktur, yang pada akhirnya tidak mengandalkan ide acak yang muncul begitu saja.


1. Fase Ideation (What should we do?)


Inilah fase dimana kita mengumpulkan, mendiskusikan, dan mencatat semua ide yang muncul. Jangan terlalu dipikirkan secara detail dalam fase ini, semua ide yang muncul untuk memenuhi selera konsumen, benchmarking dengan produk yang sudah ada atau ide liar (out of the box) yang sekiranya bisa membuat market baru dalam bisnis kuliner, di catat saja terlebih dahulu. Ide-ide yang sekiranya akan membantu pertumbuhan bisnis kuliner kita layak untuk dipertimbangkan baik ide orisinal yang belum ada di pasar, atau hasil observasi atas produk yang sudah ada dengan prinsip “buat yang lebih baik” (make it better) dalam arti bisa jadi dengan rasa yang lebih baik, kemasan yang lebih menarik, ataupun harga yang lebih terjangkau. Yang penting dengan tetap menjaga etika bisnis dan menghormati hak atas kekayaan intelektual produk lain.


2. Fase Feasibility (Can we do it?)


Dalam fase ini baru kita lakukan filter awal, semua list ide yang sudah kita catat dalam fase ideation direview dan dianalisa satu per satu apakah kita memiliki kemampuan untuk mengeksekusi ide tersebut. Misalnya, bahan baku apa saja yang dibutuhkan, dari mana kita bisa mendapatkannya, seberapa reliable supplynya, bagaimana proses produksinya, apakah kita memiliki sumber daya yang dibutuhkan seperti alat produksi baru yang dibutuhkan sampai kepada sumber daya produksi yang harus dimiliki, seperti karyawan misalnya. Seandainya inovasi yang akan dilakukan membutuhkan biaya atau investasi baru, kita harus menganalisa juga apakah estimasi penjualan atas inovasi tersebut akan memberikan return yang bagus bila dibandingkan dengan biaya yang harus kita keluarkan, dan juga apakah inovasi yang kita lakukan akan membawa akibat terhadap produk kita sendiri yang sudah ada (product cannibalization).


3. Fase Capability (Let’s make it possible)


Setelah kita melakukan analisa feasibility bahwa innovation project-nya layak untuk kita teruskan dan memberikan potensi yang baik untuk bisnis baik dalam hal pertumbuhan pendapatan atau penambahan profit, langkah selanjutnya adalah menyiapkan kemampuan dan fasilitas pendukung untuk mewujudkan inovasi tersebut. Pengadaan bahan baku, alat-alat yang dibutuhkan, menyiapkan proses produksi serta koordinasi dan training untuk karyawan yang terlibat perlu dilakukan dengan terstruktur. Jika inovasi yang dilakukan melibatkan pihak lain seperti supplier ataupun pihak lainnya, maka harus dipastikan juga informasi yang relevan sudah disampaikan dengan baik, sehingga nanti eksekusi pada saat launching akan lebih lancar.


4. Fase Launching (Let’s do it)


Inilah ”moment of truth” dari sebuah proses inovasi. Dalam fase ini, aktivitas marketing seperti promosi dan perkenalan atas produk inovasi, sampling atau review produk kuliner kita oleh influencer / food reviewer akan sangat penting untuk mendapatkan awareness yang baik, sehingga konsumen mau untuk mencobanya. Komunikasikan dengan jelas keunggulan produk inovasi kita, pastikan produknya tersedia di outlet restoran kita, dan juga pastikan kualitasnya terjaga dengan baik, sehingga akan terjadi repeat buying dari konsumen. Dalam tahap ini juga kumpulkan feedback awal dari konsumen, sehingga kita bisa memperbaiki dengan cepat demi kepuasan konsumen.


5. Fase Post-Launch Evaluation (Was is a success, what can we learn)


Setelah produk inovasi kita launch, lakukan review periodik atas kinerja penjualan produk tersebut termasuk respon konsumen. Periodenya bisa setelah 3, 6, dan 12 bulan tergantung ritme yang kita tentukan sendiri yang penting kita menganalisa apa hal-hal yang berjalan dengan baik, dan hal-hal yang belum berjalan dengan baik sehingga bisa diperbaiki dalam inovasi selanjutnya. Review kinerja keuangannya baik penambahan pendapatan dan juga biaya yang terjadi. Kita juga harus berani mengambil keputusan seandainya inovasi yang kita lakukan tidak memenuhi harapan, langkah-langkah apa yang harus kita ambil untuk memperbaiki dan mengoptimalkan penjualannya bahkan sampai kepada keputusan pahit untuk menarik produk inovasi kita kalau ternyata tidak diterima konsumen dengan baik.


Itulah lima fase yang dapat kita latih dan biasakan dalam bisnis kuliner sehingga budaya inovasi akan terus terbangun dengan sendirinya. Jangan lupa juga untuk berani mengambil keputusan untuk menarik produk kita yang sudah ada, yang kinerjanya tidak bagus sehingga kita bisa membuat ruang untuk produk inovasi. Karena kalau kita terus menambah produk tanpa kendali, kita akan sampai pada satu tahap dimana bisnis kuliner kita terlalu kompleks dan tidak fokus, sehingga akan berakibat pada pendapatan dan biaya yang terjadi. Semoga bermanfaat untuk para foodpreneurs!


Sumber Gambar: Unsplash.com


112 views0 comments

Previous Post

Baca berdasarkan Topik