Black Friday Clothing Sale Leaderboard.j

DESTRUCTIVE INNOVATION dalam BISNIS KULINER


Halo teman-teman pebisnis kuliner, apa pernah mendengar istilah Destructive Innovation? Mungkin kita akan jadi bingung ya jika kita terjemahkan secara harfiah kalimat di atas, Inovasi tapi kok merusak !!! Ini inovasi model apa ya? Yok kita akan bahas di artikel kali ini.


Pernah ingat, pada jaman dahulu untuk melakukan perhitungan pembayaran, kakek dan nenek kita menggunakan yang namanya sempoa, kemudian berubah menjadi kalkulator, dan bergeser menjadi cash register, dan saat ini sepertinya hampir semua teman-teman foodpreneur yang sedang membaca artikel ini sudah menggunakan POS.


Nah, penemuan inovasi baru ini, yang kemudian secara berlahan membunuh dan menggantikan peran atau fungsi dari inovasi yang ada sebelumnya, inilah yang disebut dengan Destructive Innovation. Selain itu, Destructive Innovation ini dapat merubah kebiasaan dari konsumen kita dan juga menciptakan kategori pengguna baru karena inovasi yang tercipta.


Kali ini kita akan membahas 3 hal yang merupakan Destructive Innovation yang dapat merubah kebiasaan dari konsumen kuliner dan tentunya dapat juga merubah model bisnis kuliner di masa depan



Pertama. Order from Your Phone


Perilaku dari konsumen yang saat ini cenderung untuk gak mau ribet ini, menciptakan peluang dan memunculkan berbagai teknologi yang bisa membantu mereka untuk tetap bertransaksi walaupun tidak berpindah dari tempat kerja atau tempat beraktivitas.


Dulu konsumen saat ingin membeli makanan atau minuman harus datang ke restorannya untuk makan ditempat atau beli dan dibawa pulang. Dengan adanya GoFood dan GrabFood, menciptakan perubahan yang ekstrim, sekarang cukup buka HP klik aplikasi kita bisa melakukan ordering system makanan atau minuman dari restoran mana saja yang ada di kota kita.


Untuk pebisnis kuliner yang tidak terdaftar GoFood dan GrabFood, dengan perubahan ini tentunya akan memberikan dampak berkurangnya permintaan pembelian ke restoran mereka.


Ada lagi teknologi lainnya terkait order system ini, yaitu Pay at Table, Di Indonesia salah satunya diperkenalkan oleh Warunk Upnormal dimana konsumen bisa melakukan order makanan dan minuman sampai melakukan pembayaran dengan berbagai metode tanpa harus pergi ke kasir atau memanggil pelayan, cukup dengan membuka aplikasi yang sudah disediakan di Play Store dan iStore, konsumen bisa secara langsung melakukan order dan juga melakukan pembayaran melalui handphone.


Dikemudian hari teknologi-teknologi seperti ini akan semakin memanjakan konsumen, dan yang saat ini dianggap sebagai suatu nilai tambah bisnis di masa depan bisa jadi akan berubah menjadi kewajiban untuk dapat memenuhi ekspektasi service yang diharapkan oleh konsumen.



Kedua. Payment From Your Phone


Jika saya bertanya kepada teman-teman yang sedang membaca artikel ini, apakah kalian masih membawa uang kas dalam jumlah banyak saat ini di dompet? Kemungkinan sebagian besar akan menjawab tidak. Fasilitas pembayaran E-Payment sudah mulai menggantikan sistem pembayaran kas bahkan di beberapa kelompok konsumen, sudah menggantikan fungsi pembayaran kartu debit atau kartu kredit.


Yes, inilah fenomena yang dalam 3 tahun ke belakang cukup mendestruksi pola perilaku konsumen untuk melakukan pembayaran saat berbelanja. Perbankan berlomba-lomba untuk mengikuti pola ini dengan mengembangkan teknologi QR Base Payment.


Ditambah lagi provider-provider digital payment ini juga berlomba-lomba menawarkan berbagai benefit potongan harga untuk menarik minat penggunanya, sehingga dalam kurun waktu tertentu dapat merubah preferensi pembayaran. Dan hasilnya saat ini usaha untuk perubahan itu sudah mulai berhasil, masyarakat sudah mulai terbiasa dengan sistem pembayaran e wallet ini, baik untuk transaksi offline maupun online. Bagi pelaku bisnis kuliner yang di lokasi berjualannya tidak menyediakan perangkat pembayaran ini tentunya lambat laun bisa jadi akan ditinggalkan oleh konsumen loyalnya.


Dalam beberapa kesempatan, saya pribadi cukup sering mencancel makan di suatu tempat hanya karena tempat tersebut tidak menerima pembayaran melalui Gopay / OVO karena kebetulan saya tidak membawa cash ataupun kartu ATM.



Ketiga. Vending Machine


Di banyak negara Asia, Amerika dan Eropa terlihat sebuah fenomena yang menarik, yaitu adanya vending machine dibanyak lokasi baik di tengah kota bahkan sampai pinggiran kota, di keramaian atau di dalam gang yang menjual banyak sekali produk dari mulai makanan, minuman, Orange Juice, Fresh Coffee, dan banyak lagi.


Sulitnya mencari lokasi yang luas disertai biaya sewa dan biaya upah karyawan yang mahal merupakan salah satu pemicu bermunculan cara penjualan seperti ini. Selain juga kepraktisan yang ditawarkan oleh teknologi ini menjadikan daya tarik bagi masyarakat kota-kota besar yang sangat sibuk dan ingin segalanya serba cepat.


Ketika mereka sedang perjalanan ke kantor maupun perjalanan pulang kantor, akan sangat mudah bagi mereka mendapatkan makanan dan minuman dari vending machine tanpa harus mengantri atau bertransaksi dalam waktu yang cukup lama.


Saat ini mungkin trend ini belum terlalu booming di Indonesia, tetapi dengan perubahan gaya hidup dan kebutuhan kepraktisan yang semakin tinggi pada masyararakat Indonesia, bukan tidak mungkin era vending machine akan muncul di masa depan,


Fenomena ini sudah mulai terlihat dengan mulai bermunculan vending machine, yang menyediakan minuman kopi hangat, (yang diseduh langsung di mesin pembuat kopi, dimana kita cukup membayar dengan e payment dan dalam hitungan kurang dari 2 menit cappuccino atau matcha latte hangat yang kita inginkan sudah siap diminum) di beberapa titik keramaian di kota Jakarta



Keempat. Media Shifting


2013 ketika memulai bisnis kuliner, salah satu media yang sangat powerfull yang kita gunakan saat itu ada twitter, bahkan saat itu cukup banyak KOL (Key Opinion Leader) dengan follower yang sangat banyak, memberikan tarif sangat tinggi untuk 1 kali posting. 2014 kemudian bergeserlah Media Consumption, khususnya market Milenial ke Instagram, media ini juga pada masa nya sangat powerfull, bahkan bisa dikatakan sekarang pun masih menjadi MANDATORY wajib digunakan.


Tapi, TIKTOK hadir beberapa tahun lalu dan menjadi sangat massive ketika PANDEMIC, Video Distribution Platform ini menciptakan banyak sekali tempat yang VIRAL atau jika boleh dikatakan dari 10 mungkin 7-9 yang viral kemungkinan besar kita ketahui dari Tiktok sehingga akhirnya Brand Kuliner membuat TIKTOK menjadi seperti sebuah kewajiban di mana kita harus mendistribusikan berbagai konten brand kita di media ini.



Nah temen-temen kuliner semua, inilah beberapa inovasi yang saat ini sudah mulai menggantikan inovasi-inovasi lama di industri F&B dan tentunya akan terus berkembang menciptakan peluang-peluang baru di masa depan. Kita sebagai perbisnis harus terus memantau perubahan-perubahan ini dan harus selalu berusaha up to date sehingga BRAND kita tetap menjadi relevan bagi konsumen kita dan bisa terus bersaing di dunia bisnis yang terus berubah dari waktu ke waktu. Ingat, "Anda tidak bisa menghindari perubahan, yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi dengan perubahan tersebut.


Semoga bermanfaat.


Foodizz

1st F&B EduTech

Belajar Kuliner ... Yah di Foodizz.


Coming Soon, Foodizz Online Class 12

20 LOW BUDGET HIGH IMPACT MARKETING PROGRAM, kelas wajib nih yang sales nya mentok, mau naikin sales tapi budget mentok atau yang salesnya udah ok tapi bisa cost jadi lebih murah. Yuk segera join kelasnya di sini. Asiknya lagi bakal ada 4x mentoring langsung bareng speakernya.


#keepsharing

#keeplearning

#spreadknoweledge

#kulinerindonesia


*Buat temen-temen yang mau copas artikel silahkan ajah ga perlu minta izin asal mencantumkan sumber artikelnya, yaitu www.foodizz.id/blog. Yuk hargai karya dan usaha orang lain dalam membuat konten.


Sumber Gambar: Unsplash.com


356 views0 comments

Previous Post

Baca berdasarkan Topik