CASH FLOW dalam Bisnis Kuliner, Pengusaha Wajib Mengetahui 6 hal ini



“Revenue is vanity, profit is sanity, and cash is reality”


Salah satu hal yang menjadikan suatu bisnis kuliner sukses adalah pengelolaan cash flow yang efektif, terlebih lagi dalam kondisi ekonomi yang menantang seperti sekarang ini. Sumber daya yang dimiliki perusahaan seperti cash, peralatan, properti, dan persediaan adalah penting untuk menjaga kelangsungan usaha. Namun diantara sumber daya yang disebutkan tadi hanya cash yang memiliki keunggulan utama atas nilainya yang terjaga, serta sangat mudah dikonversikan menjadi aset atau sumber daya lainnya.


Definisi suatu bisnis kuliner yang sukses bukanlah tentang seberapa banyak bisnis tersebut memiliki cadangan cash, namun tentang seberapa baik bisnis tersebut dalam memberikan financial return yang jauh lebih tinggi daripada instrumen investasi standar lainnya, seperti misalnya deposito atau obligasi negara. Menimbun cash dalam jumlah berlebih tidak akan membantu suatu bisnis dalam memberikan financial return. Yang harus dicapai sebuah bisnis kuliner adalah bagaimana menghasilkan positif cash flow secara terus menerus atau berkelanjutan dan mencapai tingkat return on investment yang baik, dengan kata lain jauh lebih tinggi dari pada instrumen investasi lainnya.


Memiliki cash flow yang positif tentu saja sangat penting untuk jenis bisnis kuliner apapun, tapi perlu dipahami bahwa cash flow yang positif belum tentu menjadi sebuah pertanda bahwa bisnis tersebut memiliki tingkat profitabilitas yang baik. Begitu juga sebaliknya, sebuah bisnis kuliner yang memiliki profitabilitas yang baik belum tentu memastikan bahwa bisnis tersebut memiliki cash flow yang positif. Hal ini karena ada perbedaan konsep antara profitabilitas dan cash flow yang perlu dipahami, pendapatan dan biaya-biaya yang digunakan dalam kalkulasi profit dicatat ketika manfaat atas produk tersebut sudah tercapai atau dengan kata lain ketika produk kita terjual. Tapi penerimaan atas pendapatan dan pengeluaran atas biaya dicatat ketika cash nya benar-benar diterima atau dibelanjakan. Ada perbedaan waktu antara suatu transaksi dicatat sebagai profit dan dicatat sebagai cash flow.


Contoh sederhananya, suatu bisnis bisa saja diatas kertas memiliki laporan laba rugi (P&L) yang baik, tapi ketika penjualannya dalam bentuk kredit dimana sebagian besar belum tertagih, atau bisnis tersebut memiliki inventory yang berlebih maka sangat mungkin cash dalam bisnis tersebut masih tertahan dalam bentuk piutang (receivable) dan persediaan (inventory). Belum lagi kalau bisnis tersebut memiliki aktivitas investasi (capital expenditure) yang signifikan sehingga sebagian besar cash flownya terserap untuk mendanai aktivitas capex tersebut.


Ada 6 hal yang bisa dilakukan untuk membuat pengelolaan cash flow yang efektif dalam bisnis kuliner kita:


1. Pengelolaan operasional yang efisien untuk meminimalkan jumlah cash yang dibutuhkan untuk membiayai aktivitas operasi (working capital)


Dalam aktivitas operasi seperti misalnya, membeli persediaan (inventory) yang berlebihan, memberikan termin pembayaran (terms of payment) yang lama kepada customer (jika penjualan tidak dilakukan secara tunai), dan membayar supplier dengan terms of payment yang terlalu pendek, akan memiliki akibat terhadap pengelolaan working capital yang tidak efisien. Pengelolaan working capital yang efisien akan membutuhkan perencanaan yang baik atas 3 hal yaitu:

  • persediaan yang seimbang dan memadai untuk memastikan ketersediaan produk, namun tidak berlebihan

  • pengelolaan hutang kepada supplier dengan termin pembayaran yang adil bagi kedua belah pihak namun tidak terlalu cepat dan

  • pengelolaan piutang dari customer (jika ada) yang efektif.



2. Pengambilan keputusan investasi bisnis (capital expenditure) yang selektif sehingga bisa memberikan return on investment yang optimal dan cash flow yang positif


Seringkali pengambilan keputusan investasi dalam bisnis kuliner akan melibatkan variabel seperti memilih jenis pengembangan cabang atau pembelian asset usaha di waktu yang tepat dengan harga yang juga tepat. Pembelian asset seperti properti ataupun perlatan produksi biasanya akan melibatkan pengeluaran cash yang sangat siginifikan. Analisa dan evaluasi atas keputusan investasi seperti apakah lebih baik membeli atau sewa, dibayar sekaligus didepan atau dibuat dalam bentuk cicilan akan sangat menentukan cash flow yang optimal. Dan yang tentunya harus dipastikan adalah keputusan investasi tersebut harus membuka dan memberikan peluang yang tinggi untuk menghasilkan pendapatan yang paling optimal sehingga investasi tersebut dapat balik modal dengan payback period yang cepat.



3. Pengelolaan portfolio produk atau menu yang memiliki gross margin yang baik sehingga membantu profitabilitas bisnis yang pada akhirnya berujung pada cash flow yang optimal

Produk yang memiliki profitabilitas baik yang ditandai dengan gross margin yang baik akan membantu menghasilkan cash flow dan sebaliknya produk yang kurang profitable akan dengan cepat menghabiskan cash. Dalam bisnis kuliner kita harus mengetahui secara persis gross margin dari masing-masing produk kita dan memiliki strategi untuk mengoptimalkannya. Inovasi-inovasi produk yang dilakukan sebisa mungkin harus margin accretive atau dengan kata lain akan meningkatkan total gross margin bisnis dan tidak menurunkan total gross margin (margin dilutive).



4. Perencanaan yang baik atas cash surplus atau berlebih untuk di re-investasi kembali sehingga dapat memberikan return yang maksimal


Untuk memaksimalkan return atas investasi salah satu strategi yang dilakukan, adalah dengan mengoptimalkan cadangan cash yang berlebih untuk ekspansi bisnis, seperti misalnya pengembangan cabang, pembelian asset dan peralatan produksi, sehingga dapat menaikkan omset penjualan lebih baik lagi ataupun melakukan pembagian dividen kepada pemegang saham (jika ada). Pilihan diatas harus diambil dengan analisa yang detail, sehingga pada akhirnya berujung pada return yang maksimal. Menyimpan cash dalam jumlah yang berlebih tidak akan membantu tujuan bisnis dalam memberikan return yang maksimal. Namun dalam kondisi ekonomi yang menantang, dapat dijadikan pengecualian, cadangan cash yang ada harus lebih tinggi atau konservatif dari biasanya untuk mengantisipasi turunnya permintaan konsumen atas produk kuliner kita.



5. Perencanaan atau forecast yang baik atas penerimaan cash dan pengeluarannya sehingga memastikan bisnis dapat memenuhi kewajiban usahanya.


Bisnis memiliki kewajiban untuk melakukan pembayaran baik kepada supplier, penyedia jasa (seperti listrik, sewa dan lain-lain), ataupun karyawan dalam bentuk gaji, terlepas dari apakah bisnis tersebut telah menghasilkan pendapatan dari aktivitas penjualannya. Salah satu hal yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran cash adalah cash forecasting yang detail, sehingga bisa memberikan prediksi yang baik kapan dan seberapa besar penerimaan dan pembayaran perlu dilakukan. Potensi kekurangan cash yang teridentifikasi lebih awal akan memberikan waktu kepada bisnis untuk bereaksi dan menjalankan rencana dalam menutupi kekurangan atas selisih antara besarnya pembayaran dan penerimaan



6. Pengelolaan aktivitas pendanaan yang terencana, baik yang bersumber dari investor, pemegang saham ataupun pinjaman jika dibutuhkan


Ada kalanya saat di dalam bisnis dimana akan diperlukan sumber pendanaan segar untuk pembiayaan usaha ataupun kebutuhan ekspansi. Semua ini perlu direncanakan dengan baik seperti berapa besar jumlah yang dibutuhkan, darimana sumbernya, dan bagaimana skema pengembalian atau return-nya sehingga cash flow yang sehat akan tetap terjaga.


Demikianlah 6 hal yang bisa dilakukan dalam bisnis kuliner kita untuk menjaga pengelolaan cash flow yang efektif. Ingatlah bahwa “Revenue is vanity, profit is sanity and cash is reality”.

Semoga bermanfaat untuk para foodpreneurs!


Foodizz

1st F&B Education Platform in Indonesia.

www.foodizz.id


Buat temen-temen yang mau belajar lebih detail bagaimana MEMULAI BISNIS KULINER DARI NOL, nah coming soon Maret kelas MBK 16 Foodizz akan hadir dengan format OFFLINE (di Bandung) dan ONLINE (bisa di mana ajah). Siapa yang pernah ikut kelas ini? BANYAKK, sudah 16 MBK loh dan banyak owner bisnis kuliner yang sudah sukses pernah ikut di kelas-kelas Foodizz seperti HAUS, Waroeng Steak, TEGUK, TUGU JOGJA & LAPIS BOGOR, Master Penyet, Mr. Suprek, Mie Gacoan, Capital Bakery dan ribuan lainnya.


So, jangan terlewat di kelas MBK 16 kali ini, banyak ILMU UPGRADE, STUDI KASUS, serta MENTORING ONLINE 10x setelah selesai kelas dan dapet bocoran 5 bisnis yang bisa jadi bisnis miliaran yang bisa temen-temen jalankan. Daftar di link ini


Jangan ketinggalan peluangnya.


#keepsharing

#keeplearning

#spreadknoweledge

#kulinerindonesia


*Buat temen-temen yang mau copas artikel silahkan ajah ga perlu minta izin asal mencantumkan sumber artikelnya, yaitu www.foodizz.id/blog. Yuk hargai karya dan usaha orang lain dalam membuat konten"


Sumber Gambar: Unsplash.com


550 views2 comments

Previous Post

Baca berdasarkan Topik