Buka Outlet 100% Modal Investor Dengan Sistem Operating Oleh Brand Owner

Updated: Dec 29, 2020

Salah satu pertanyaan yang sering sekali muncul diberbagai kesempatan terkait dengan kerjasama adalah ketika kita ingin membuka cabang, tapi 100% modal di biayai oleh investor.


Atau sama ajah di mana ada investor yang mau invest untuk membuka outlet 100% modal dari investor, namun investornya tidak ingin menjalankan operasionalnya, artinya 100% operasional di jalankan oleh pemilik brand.


- Apa sih pemahaman modal dalam kerjasama ini?

- Bagaimana bentuk kerjasamanya?

- Bagaimana sistem bagi hasilnya?

- Bagaimana jika terjadi resiko kerugian

- Kondisi seperti apa yang membuat outlet harus tutup?

- Bagaimana jika kondisi malah sangat bagus?

- Bagaimana jika terjadi konflik atau selisih paham?


Nah coba ita bahas satu per satu yah Foodpreneur.


A. Definisi Modal masing-masing pihak


Nah ini sering sekali salah memahami, 100% modal kerja oleh mitra itu bukan berarti 100% bisnis punya mitra, mengapa? Karena kita pemilik brand dan operator juga pada dasarnya punya modal yang sama besarnya dalam bentuk Model Bisnis, Brand, Tim, Kemampuan Operasional dan juga potensi memberikan hasil yang lebih terjamin dan resiko lebih kecil dari pada mitra menjalankan bisnis kulinernya sendiri.


Jadi start from beginning Anda pemilik Brand jangan seolah-olah posisi Anda dibawah karena Anda butuh modal, klo sudah salah memposisikan nanti ketika bisnisnya jalan akan tidak kondusif jalannya. Anda dan Mitra adalah partner bisnis, semua punya hak dan kewajiban dan setara sesuai dengan KESEPAKATAN yang dibuat dan diSETUJUI bersama. Itu POINTNYA.


Jadi Foodpreneur harus memberikan pemahaman dahulu soal ini, jika tidak satu pikiran soal ini sebaiknya tidak usah berkerjasama karena potensi akan terjadinya konflik pasti akan besar.


B. Bagaimana bentuk kerjasamanya?


Hal ini paling krusial untuk dibahas dan disepakati dari awal, apakah ini bentuk kerjasama bisnis penyertaan modal (investasi) atau kerjasama ini kearah pinjaman modal kerja yang di mana pemilik brand punya kewajiban untuk mengembalikan modal beserta persentase keuntungan atau malah ada bunganya. Jadi temen-temen foodpreneur harus hati-hati dengan bentuk kerjasama ini dan harus sangat jelas diatur dengan notaris.


Mengapa? Karena klo bentuknya investasi maka masing-masing pihak harus tau bahwa setiap keuntungan dan kerugian merupakan tanggung jawab bersama, jadi si investor tau biarpun perjanjian katakanlah revenue share, ada kondisi di mana pada akhirnya investasi mereka merugi karena omset tidak sesuai dengan target yang sudah dibuat di awal.



C. Bagaimana Sistem Bagi Hasilnya


Sistem bagi hasil pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua bentuk:

1. Bagi hasil dari Top Line (Revenue)

2. Bagi hasil dari Bottom Line (Net Income)


Yang mana saja pada dasarnya tidak jadi masalah, yang penting dibuat perhitungan yang detail dibuat dengan 6 skenario minimal, yaitu:

1. Skenario Normal (80-100% omset normal)

2. Skenario Optimis (100 - 120% omset)

3. Skenario Sangat Optimis (120-150% Maksimal pembagian)

4. Skenario Pesimis (60-80%)

5. Skenario Waspada (40-50%)

6. Skenario Tutup (Under 40% dalam jk waktu tertentu)


Ini hanya ilustrasi ajah, poin utamanya paparkan dengan detail kepada investornya seluruh skenario dan harus disepakati di notaris all skenario ini sehingga jika dalam perjalanan bisnis terjadi skenario manapun sudah tidak masalah karena semua sudah disepakati.



D. Jika Akhirnya Rugi gimana?


Yah sederhananya rugi merupakan bagian dari bisnis yang mungkin saja terjadi dan memang sudah disepakati bersama yo wess, tapi ada beberapa hal yang perlu diatur ketika memang outlet rugi dan apalagi sampai tutup.

- Bagaimana perlakuan terhadap ASET yang sudah ada, ketika dijual dan ada nilainya akan dibaginya seperti apa?

- Jika ada amortisasi sewa (tabungan sewa bulanan untuk tahun berikutnya) bagaimana perlakuannya? Apakah uangnya dibagikan sesuai porsi atau diberikan ke investor sebagai bagian dari benefit dan itikad baik ajah.

- Jika rugi masih dalam tahap bisa di suntik dana baru dengan harapan ada peningkatan performa, bagaimana nanti sistemnya?


E. Jika omset ternyata sangat bagus


Apakah ada batasan maksimal dari sistem bagi hasilnya? Seperti halnya klo rugi dan tutup, batasan maksimal juga harus dibuat karena bisa jadi semakin besar omset biaya back office Anda juga akan semakin besar karena butuh sistem, kontrol, dll. Fair ga? yah fair-fair ajah asal sepakat sejak awal dengan Mitranya.



F. Apakah semua struktur biaya dibahas secara bulanan?


Jangan dan tidak perlu, harusnya dibuat dalam skenario setiap biaya yang akan muncul dalam bentuk persentase yang disepakat sejak awal, jadi perjanjian hanya berlaku di TOP LINE dan BOTTOM LINE ajah, tidak membahas sampai ke COGS, OPEX, BACK OFFICE COST dll, pusing nanti foodpreneur klo modelnya begini, kebayang ga kalo misalnya ada 20 mitra?


Untuk itulah foodpreneur harus betul-betul paham dalam menyusun Forecasting dan skenario outletnya, karena hal ini yang akan disepakati sejak awal dengan mitranya, jadi klo masih bingung nyusun yang beginian jangan coba-coba deh kerjasama mitra atau investor, bukannya peluang ini bisa jadi cobaan atau ujian berat dalam bisnis Anda.


Tapi gimana biar ga hilang kesempatan nih mumpung banyak yg lagi tertarik jadi mitra atau investor outlet? Cari Mentor yang paham secara detail soal ini dari segala aspek, ga seberapa cost nya dibandingkan foodprenuer salah langkah dalam hal ini.



G. Bagaimana jika terjadi konflik


Mungkin ga? Yah mungkin ajah apalagi klo outletnya rugi, karena itu detail dari sisi legal aspek menjadi sangat penting, pastikan semua point di atas dibahas dengan detail, dijabarkan secara mendalam serta di tuangkan dalam kesepakatan yang terikat legalitas. Yah tentu jalan pertama adalah komunikasi serta musyawarah karena konflik juga tidak ada poin nya klo ujung-ujungnya outlet tetep rugi, malah makin menghabiskan biaya untuk mengurus konfliknya dan juga membuat konsentrasi foodpreneur jadi ga fokus untuk meningkatkan performa.


Beberapa poin penting dalam hal konflik ini agar tidak terjadi dan panjang:

- Tipe mitra/investor pastikan memang paham resiko

- Semua detail ditulis dalam perjanjian dengan notaris

- Transparansi dalam menjalankan bisnis outletnya

- Tepat waktu dalam men deliver apa yang sudah dijanjikan

- Utamakan komunikasi yang intens jika ada kondisi-kondisi yang tidak ok


Nah foodpreneur agak panjang kali ini yah artikelnya, ga apa-apa semoga bisa memberikan pemahaman yang lebih mendalam karena banyak banget yang akhirnya bisnisnya tidak berjalan dengan baik karena banyak detail yang terlewat terkait dengan model kerjasama bukan outlet pake mitra atau investor.


BTW bahasan ini hanya membahas jika investor modalin buka outlet yah, artinya hanya kerjasama di outlet tersebut, bukan menjadi investor dalam Bisnis/Perusahaan kita secara keseluruhan, klo ini beda lagi bahasannya dan juga sangat penjang dan detail yang harus dipahami.


Semoga bermanfaat


Foodizz

#keepsharing

#Spreadknowledge

#bisniskuliner

#indonesiamaju


Buat temen-temen yang membutuhkan Mentor dalam bidang kuliner, nah finally terbuka kesempatan nih untuk bisa langsung dimentori pebisnis kuliner yang sudah berpengalaman silahkan WA ke nomor 082261170077 Winda.


Sumber Gambar: Pexels.com

358 views0 comments

Previous Post

Baca berdasarkan Topik