Black Friday Clothing Sale Leaderboard.j

9 CARA AGAR BIAYA DALAM BISNIS KULINER LEBIH EFISIEN?


Dalam artikel sebelumnya mengenai Titik Impas / BEP (Break Even Point x Payback Period dalam Bisnis Kuliner, Hmm beda yah?) sudah dibahas tentang pentingnya mengetahui titik impas dan bagaimana cara menghitungnya (silahkan baca terlebih dahulu artikel tersebut agar dapat memahami artikel ini dengan lebih baik).

Nah, kali ini akan kita bahas cara-cara apa saja yang bisa diambil sehingga Titik Impas tercapai dengan lebih optimal dan keuntungan (profit) didapatkan dengan lebih maksimal. Pada dasarnya resep utamanya hanya dua, yaitu pertama; turunkan biaya tetap dan yang kedua; tingkatkan kontribusi.


Tapi sebelum kita bahas lebih lanjut, kita ulangi dan segarkan terlebih dahulu beberapa konsep / definisi yang berkaitan, sebagai berikut:


1. Biaya tetap (fixed cost)


Biaya tetap adalah biaya yang besarannya tidak berubah / tetap seiring dengan terjadinya perubahan jumlah produksi misalnya biaya sewa tempat usaha, biaya depresiasi (penyusutan) alat-alat produksi, biaya listrik (jika proses produksi tidak melibatkan alat-alat produksi yang memerlukan banyak listrik) atau biaya karyawan tetap.


2. Biaya tidak tetap / variabel (variable cost)


Biaya variabel adalah biaya yang besarannya berubah seiring dengan perubahan jumlah produksi misalnya biaya bahan baku atau biaya yang lainnya yang akan berubah berbanding lurus dengan peningkatan / penurunan jumlah produksi.


3. Kontribusi


Kontribusi adalah penjualan / pendapatan dikurangi dengan biaya variabel atau dengan kata lain kontribusi yang dihasilkan produk untuk biaya tetap, dan pada akhirnya berdampak pada keuntungan (kontribusi dikurangi biaya tetap maka akan menjadi keuntungan / profit).



Cara untuk menurunkan biaya tetap


1. Optimalkan penggunaan asset/ alat-alat produksi


Contohnya optimalkan penggunaan alat produksi seperti kompor, deep-fryer atau mesin kopi sampai batas optimalnya sebelum membeli alat baru. Perhitungkan dengan baik berapa kapasitas yang ada dalam alat-alat tersebut bila dibandingkan dengan permintaan konsumen. Ini artinya juga kita tidak menyia-nyiakan kapasitas produksi yang ada. Karena jangan lupa alat-alat produksi ini akan membebani biaya dalam bentuk biaya depresiasi.


2. Tingkatkan kuantitas penjualan / produksi


Cara yang gampang-gampang susah untuk menurunkan biaya tetap tentunya adalah dengan meningkatkan kuantitas penjualan / produksi. Kalau kuantitas semakin banyak maka proporsi biaya tetap terhadap total biaya akan semakin menurun seiring dengan bertambahnya kuantitas. Nah, sekarang bagaimana caranya kita meningkatkan kuantitas penjualan? Baiknya ini kita bahas terpisah dengan panjang lebar karena ini berkaitan dengan strategi marketing dan pengembangan bisnis


3. Gunakan jenis alat produksi (production platform) yang sejenis


Dengan memiliki alat-alat produksi yang sejenis, misalnya kompor atau mesin kopi yang sama maka suku cadang atau biaya pemeliharaan yang dibutuhkan biasanya lebih murah bila dibandingkan dengan memiliki alat produksi dengan tujuan / output yang sama namun dengan spesifikasi / jenis yang berbeda-beda. Harga pembelian alat-alat produksi itu pun kemungkinan akan lebih murah kalau kita bisa rencanakan kebutuhan kuantitasnya dengan baik.


4. Outsource produksi dengan basis per unit


Kalau kita bisa produksi sendiri kenapa kita harus beli dari orang lain atau outsource? Eits jangan salah, ini tergantung dengan strategi bisnisnya dan juga kompetensi utama nya (core competence). Kalau kita bisa produksi sendiri dengan kualitas lebih baik dan harga yang lebih murah, ya silahkan saja kalau itu strateginya. Tapi seringkali strategi outsource akan memiliki biaya yang lebih murah karena terjadinya skala ekonomis. Contoh kalau kita jualan tahu kriuk dan kompetensi / keunggulan utama produk kita adalah tepungnya dan bumbunya, kita tidak harus membuat tahu sendiri, kita bisa outsource dengan membeli tahu dari pengrajin tahu yang spesifikasinya sesuai dengan yang kita inginkan dan sangat mungkin dengan biaya yang lebih murah dibandingkan kita membuat tahunya sendiri, karena pengrajin bisa memproduksi dalam kuantitas yang jauh lebih besar (skala ekonomis).


5. Analisa keseluruhan biaya yang terkait dengan penggunaan asset / alat produksi


Nah kalau kita membeli alat-alat produksi jangan asal murah, perhatikan juga kualitasnya. Bisa jadi kita membeli alat produksi dengan harga yang murah tapi pada akhirnya lebih sering ganti suku cadang atau lebih sering rusak. Hal ini bisa berakibat pada total biaya yang kita keluarkan sebenarnya lebih banyak dibandingan bila kita membeli alat produksi yang lebih bagus dengan harga yang sedikit lebih mahal.


6. Gunakan tenaga kerja temporer untuk kondisi tertentu


Dengan tetap mematuhi peraturan ketenaga kerjaan yang ada, cara ini bisa ditempuh untuk waktu-waktu tertentu dimana permintaan sedang naik misalnya libur panjang. Kita bisa menggunakan tenaga kerja temporer untuk memenuhi permintaan pada saat tersebut karena ketika permintaan kembali normal/ turun, biaya tersebut tidak akan menjadi biaya tetap. Lain soal kalau kita menggunakan tenaga kerja tetap / permanen, ketika permintaan menurun biaya tersebut akan tetap melekat.



Cara untuk meningkatkan kontribusi


7. Standarisasi bahan dan consumables untuk mendapatkan harga yang kompetitif


Contohnya kalau kita jualan martabak sebisa mungkin jenis tepung dan mentega yang digunakan sama, kalaupun beberapa jenis varian yang dijual sebaiknya perbedaan tersebut hanya terletak pada toppingnya saja (misalkan topping keju, coklat atau kismis). Kenapa? Karena kalau terlalu banyak bahan berbeda yang terlibat maka hampir pasti kita tidak akan mendapatkan harga yang kompetitif, karena kita akan membeli dalam satuan yang lebih kecil. Begitu juga dengan consumables, misalnya kemasan, jangan sampai kita punya berbagai jenis kemasan yang berbeda sehingga akan menyebabkan kompleksitas dan lagi-lagi harga yang tidak kompetitif per unitnya.


8. Sederhanakan format produk


Hal yang bisa dilakukan adalah dengan menghilangkan / mengurangi proses atau bahan yang sebetulnya tidak mengurangi kualitas yang diinginkan konsumen. Contohnya kemasan yang berlapis-lapis untuk take away, diberikan kantong jinjing, kontainer plastik dengan bungkus plastik lagi di dalamnya. Kalau kita sudah yakinkan bahwa kontainer plastik tersebut sudah higienis dan mampu mengemas produk makanan yang kita inginkan dengan baik, bisa jadi kita tidak perlu bungkus plastik lagi di dalamnya yang kemungkinan juga tidak dianggap perlu oleh konsumen / tidak mengurangi kualitas, malahan disisi lain hanya menambah biaya packaging.


9. Produksi output dengan benar


Seringkali dalam bisnis kuliner bagian dapur atau produksi menghasilkan produk yang tidak memenuhi kualitas atau membuat pesanan konsumen yang salah. Jangan lupa ini semua akan menjadi biaya yang terbuang begitu saja. Oleh karena itu pastikan produksi output dengan benar dengan kualitas yang baik.


Nah itulah 9 cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan biaya yang lebih efisien. Jangan lupa cara-cara tersebut ibaratnya adalah alat atau pilihan yang harus digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi bisnisnya. Minimal kita sekarang sudah mengetahui pilihan apa saja yang bisa dilakukan dalam bisnis kuliner kita, tinggal mengaplikasikannya dengan baik sesuai dengan strategi bisnis kita masing-masing. Semoga bermanfaat untuk para foodpreneurs! (a/S)


Semoga Bermanfaat.


Let's get SCALE


Foodizz Team

Serial #138


#keepsharing

#keeplearning

#spreadknoweledge

#kulinerindonesia


*Buat temen-temen yang mau copas artikel silahkan ajah ga perlu minta izin asal mencantumkan sumber artikelnya, yaitu www.foodizz.id/blog. Yuk hargai karya dan usaha orang lain dalam membuat konten"


#KontenPromo


Program Marketing, Selling dan Profit di 2021 yang PRAKTIS dan SIAP pakai? Ga perlu pusing, cukup belajar dari kelas Ecourse ini, detail dan siap IMPLEMENTASI.


Sumber Gambar: Unsplash.com


272 views0 comments

Previous Post

Baca berdasarkan Topik